aceh.tagarutama.com, Jakarta – Di tengah gempuran pakaian jadi dan konveksi skala besar, usaha tailoring CH Busana tetap bertahan sebagai bagian dari denyut ekonomi kreatif daerah. Berdiri sejak tahun 2010, usaha CH Busana atau akronim dari Caudi dan Neni, tumbuh dari sebuah hobi menjahit yang kemudian berkembang menjadi sumber penghidupan dan lapangan kerja.
Salah satu pemilik, Neni menceritakan, bahwa ia memulai usahanya dengan keterampilan menjahit yang dipelajari secara otodidak. Tanpa latar pendidikan formal, konsistensi dan ketekunan menjadi modal utama dalam menjaga kualitas hingga usaha ini dapat bertahan lebih dari satu dekade.
“Sejak awal sampai sekarang, saya sangat puas dengan hasil yang saya tekuni,” ujar Neni saat di wawancarai media ini pada, Selasa (27/01) di Ujung kerawang, jakarta Timur.

Dalam aktivitas produksinya, CH Busana melayani beragam kebutuhan pakaian, mulai dari kemeja, kaos, seragam almamater, celana, rok hingga jas.
Setiap pesanan dikerjakan melalui proses pengukuran langsung serta penggunaan sampel sebagai acuan, guna memastikan hasil sesuai dengan keinginan pelanggan. Usaha ini juga terbuka terhadap desain khusus, menyesuaikan kebutuhan konsumen.
“Semua melalui proses pengukuran dan kadang melalui sample,” tuturnya
Sememnata, untuk jenis kain yang digunakan yaitu seperti drill dan katun. Menurut Neni 2 jenis kain ini paling banyak digunakan karena mudah dikerjakan dan diminati pasar.
Dari sisi permintaan, pesanan biasanya meningkat pada musim sekolah dan hari raya, yang menunjukkan keterkaitan erat antara usaha tailoring dengan siklus ekonomi masyarakat.
Dalam menjaga keberlangsungan usaha, Neni menekankan prinsip kualitas, kerapian, kejujuran, dan amanah. Pendekatan ini membuat sejumlah pelanggan bertahan menjadi pelanggan tetap selama bertahun-tahun.
Namun, perjalanan usaha ini juga dihadapkan pada berbagai tantangan.Misalnya, negosiasi harga dengan pelanggan serta kenaikan harga bahan baku menjadi persoalan yang kerap muncul.
Meski demikian, Neni tetap percaya diri dan fokus menjaga mutu produk di tengah persaingan dengan industri pakaian jadi.
“kami tetap percaya diri dan fokus menjaga mutu produk, kami,” ungkapnya.
Semantara itu, dalam meningkatkan permintaan, upaya promosi dilakukan secara sederhana melalui brosur dan media online, yang kini mulai memberi dampak positif terhadap peningkatan pesanan. Meski sistem pemesanan masih didominasi dari mulut ke mulut, Neni mengatakan CH Busana terbuka untuk beradaptasi dengan perkembangan digital ke depan.
Usaha yang sudah berjalan dari tahun 2010 ini, Tak hanya berkontribusi pada ekonomi keluarga, CH Busana juga memiliki peran sosial dengan memberdayakan tenaga kerja dan melatih penjahit pemula. Hal ini menjadikan usaha tailoring ini sebagai bagian dari ekosistem UMKM yang turut menggerakkan ekonomi.
Neni berharap, CH Busana dapat terus berjalan lancar, memiliki pelanggan yang semakin luas, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Ia juga menyampaikan pesan bagi generasi muda agar tidak ragu menekuni keterampilan menjahit sebagai bagian dari ekonomi kreatif.
“Keterampilan menjahit bisa dijalani hingga tua dan bermanfaat bagi banyak orang,” Pungkasnya.









